Arfa Tours Daftar Umrah

Sejarah Perluasan Masjidil Haram dari Masa ke Masa

· Tempat & sejarah (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, situs ziarah Makkah–Madinah)
Jamaah mengelilingi Ka'bah di dalam kompleks Masjidil Haram, Makkah
Foto: Zainichi Gaikokujin — CC BY 3.0 · sumber

Masjidil Haram yang hari ini kita lihat bukan bangunan tunggal yang berdiri sekali jadi. Sejak zaman Nabi Ibrahim AS, area di sekitar Ka'bah ini sudah diperluas berkali-kali selama lebih dari 14 abad, mulai dari pelataran terbuka tanpa dinding, hingga kompleks berlantai banyak yang dirancang menampung jutaan jamaah. Artikel ini menelusuri tahapan perluasan tersebut dari masa Khulafaur Rasyidin sampai proyek Raja Salman, agar jamaah umrah memahami konteks sejarah tempat yang mereka kunjungi.

Dari Pelataran Terbuka ke Bangunan Masjid

Pada masa awal Islam, area di sekitar Ka'bah masih berupa pelataran terbuka yang dikelilingi rumah-rumah penduduk Makkah. Belum ada dinding atau atap yang memisahkan tempat tawaf dari permukiman di sekitarnya.

Perluasan resmi pertama tercatat dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 17 H (sekitar 638 M). Ia membeli sejumlah rumah di sekitar Ka'bah, membongkarnya untuk memperluas area tawaf, lalu membangun tembok pembatas yang tingginya kurang dari dua meter serta memasang lampu minyak sebagai penerangan pertama di kawasan itu.

Langkah ini dilanjutkan Khalifah Utsman bin Affan sekitar tahun 26 H (646-649 M). Ia membeli lebih banyak properti di sekeliling masjid dan menambahkan serambi beratap, memberi jamaah tempat berlindung dari terik matahari. Beberapa dekade setelahnya, perluasan juga diteruskan oleh Abdullah bin Zubair.

Dinasti Umayyah dan Abbasiyah: Pilar dari Mesir dan Suriah

Memasuki era Dinasti Umayyah, Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik pada tahun 91 H (709 M) memerintahkan renovasi besar. Ia mendatangkan tiang-tiang marmer berkualitas dari Mesir dan Suriah, menambahkan plafon kayu berukir dengan sentuhan emas, serta memperluas sisi timur masjid.

Pada masa Dinasti Abbasiyah, Khalifah Muhammad Al-Mahdi sekitar tahun 785 M melanjutkan dengan salah satu proyek perluasan terbesar pada era itu. Beberapa sumber menyebut luas masjid saat itu mencapai sekitar 16.000 meter persegi dengan kapasitas sekitar 30.000 jamaah, meski angka persisnya bervariasi antar catatan sejarah. Pada periode Abbasiyah pula, Hijr Ismail mulai dilapisi marmer untuk pertama kalinya.

Era Utsmaniyah: Kubah Menggantikan Atap Kayu

Perubahan besar pada wajah bangunan terjadi di era Kesultanan Utsmaniyah. Pada awal tahun 1570-an (979 H), Sultan Selim dan dilanjutkan Sultan Murad memerintahkan renovasi menyeluruh yang dirancang arsitek terkenal Mimar Sinan. Atap kayu yang datar diganti dengan kubah-kubah batu, lengkap dengan tambahan pilar penyangga. Bangunan hasil era ini dikenal sebagai "struktur Utsmani", dan sebagian elemennya masih bisa dikenali hingga sekarang.

Pada pertengahan abad ke-19, sekitar tahun 1853, Sultan Abdul Majid I melakukan renovasi lanjutan. Sejumlah sumber mencatat luas masjid pada masa itu mencapai sekitar 28.000 meter persegi dengan kapasitas sekitar 50.000 jamaah.

Abad ke-20: Perluasan Skala Besar Era Kerajaan Saudi

Setelah Abdulaziz Ibn Saud memasuki Makkah pada 1924 dan mendirikan Kerajaan Arab Saudi modern, pemugaran besar-besaran dimulai. Pada 1926, warna bangunan diperbarui dan lantai diganti dengan marmer, lampu listrik dipasang untuk pertama kalinya di Masjidil Haram, dan area Sa'i (Mas'a) dipisahkan dari pasar umum lalu dimasukkan ke dalam kompleks utama masjid. Setahun berikutnya, kanopi dipasang di pelataran tawaf untuk melindungi jamaah dari panas.

Proyek ekspansi besar pertama era Saudi modern diluncurkan Raja Saud pada 1955 dan berlangsung hingga awal 1970-an. Area bawah tanah dan lantai tambahan dibangun, sehingga total luas masjid meningkat menjadi berkisar 150.000-160.000 meter persegi dengan kapasitas sekitar 400.000-500.000 jamaah, tergantung sumber yang dirujuk.

Perluasan Raja Fahd dan Raja Abdullah

Pada rentang 1982-1988 hingga awal 1990-an, Raja Fahd bin Abdulaziz membangun sayap baru serta area shalat terbuka tambahan, dengan membongkar sejumlah bangunan di sekitar masjid. Pada masanya ini disebut sebagai perluasan terbesar dalam 14 abad terakhir, dan total luas Masjidil Haram tercatat mencapai sekitar 356.000 meter persegi dengan kapasitas yang disebut berkisar 800 ribu hingga lebih dari 1 juta jamaah, bergantung pada sumber.

Pada 2011, Raja Abdullah meresmikan proyek perluasan yang disebut terbesar dalam sejarah modern Masjidil Haram, menambah sekitar 456.000 meter persegi area baru di sekeliling bangunan lama. Proyek ini ditargetkan mampu menampung lebih dari 2,5 juta jamaah pada kapasitas penuh.

Proyek Raja Salman: Lima Paket Perluasan

Pada Juli 2015, Raja Salman meresmikan kelanjutan proyek Raja Abdullah sekaligus meluncurkan lima paket proyek perluasan tambahan. Paket-paket ini mencakup gedung utama masjid, terowongan, bangunan layanan bagi jamaah haji dan umrah, serta jalan lingkar di sekitar kompleks. Tujuannya menampung lebih dari 1,6 juta jamaah dalam satu waktu, dengan sejumlah sumber menyebut potensi hingga sekitar 2 juta jamaah pada musim-musim padat seperti Ramadan dan haji.

Perlu dicatat, angka luas total dan kapasitas Masjidil Haram pascaproyek ini disebut berbeda-beda antar sumber, berkisar dari sekitar 750.000 meter persegi untuk bangunan inti hingga sekitar 1,5 juta meter persegi jika memasukkan area pendukung di sekelilingnya. Perbedaan ini wajar karena proyek dikerjakan bertahap dan terus direvisi, sehingga jamaah yang membutuhkan data paling akurat dan terbaru sebaiknya mengonfirmasi langsung ke otoritas resmi urusan Dua Masjid Suci, bukan mengandalkan satu angka yang beredar di internet.

Ringkasan Tahapan Perluasan

PeriodeTokoh/EraPerkiraan Perubahan
17 H / 638 MUmar bin KhattabPerluasan pertama, tembok pembatas, lampu minyak
26 H / 646-649 MUtsman bin AffanPenambahan properti dan serambi beratap
91 H / 709 MAl-Walid bin Abdul Malik (Umayyah)Tiang marmer dari Mesir dan Suriah, plafon berukir
Sekitar 785 MMuhammad Al-Mahdi (Abbasiyah)Perluasan besar, pelapisan marmer Hijr Ismail
Awal 1570-anSultan Selim & Murad (Utsmaniyah)Kubah batu menggantikan atap kayu
1924-1927Abdulaziz Ibn SaudListrik pertama, marmer baru, Mas'a masuk kompleks
1955-1973Raja SaudLantai dan area bawah tanah tambahan
1982-1990-anRaja FahdSayap baru dan area shalat terbuka
2011-2015Raja AbdullahPerluasan terbesar era modern saat itu
2015-sekarangRaja SalmanLima paket proyek, termasuk terowongan dan jalan lingkar

Apa Artinya bagi Jamaah Umrah Saat Ini

Bagi jamaah yang baru pertama kali datang, kompleks yang sangat luas ini bisa membingungkan. Jarak antara pintu gerbang, area mataf, dan penginapan bisa cukup jauh dan berlapis-lapis lantai, sehingga mengenali nomor pintu serta titik acuan di sekitar penginapan sangat membantu agar tidak tersesat, terutama saat waktu shalat ramai.

  • Catat nomor pintu masuk terdekat dari hotel sebelum berangkat ke masjid.
  • Manfaatkan eskalator atau lift di area tertentu jika rombongan ada lansia.
  • Perhatikan rambu penunjuk lantai, karena tawaf dan shalat bisa dilakukan di beberapa lantai saat kondisi padat.
  • Simpan titik kumpul yang disepakati dengan rombongan jika terpisah.

Arfa Tours biasanya menyertakan orientasi singkat soal tata letak Masjidil Haram dalam pembekalan sebelum keberangkatan, agar jamaah tidak kaget dengan skala bangunan yang sudah jauh berbeda dari gambaran lama.

Menutup: Sejarah yang Terus Berlanjut

Perluasan Masjidil Haram pada dasarnya mengikuti satu pola yang sama sejak zaman Khulafaur Rasyidin: jumlah jamaah terus bertambah, dan bangunan menyesuaikan diri. Mengetahui sejarah ini tidak mengubah tata cara ibadah, tetapi membantu jamaah menghargai bahwa setiap sudut yang mereka lewati saat tawaf maupun menuju Hijr Ismail punya lapisan sejarah dari berbagai masa. Arfa Tours mendorong jamaah untuk tetap fokus pada kekhusyukan ibadah, sembari memahami konteks tempat suci yang mereka kunjungi.

Pertanyaan yang sering diajukan

Kapan Masjidil Haram pertama kali diperluas?

Perluasan resmi pertama tercatat dilakukan Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 638 Masehi (17 H), dengan membeli dan membongkar rumah-rumah di sekitar Ka'bah lalu membangun tembok pembatas rendah dan memasang lampu minyak.

Berapa luas Masjidil Haram sekarang?

Angka pasti bervariasi antar sumber karena proyek perluasan era Raja Abdullah dan Raja Salman masih berlanjut, berkisar dari sekitar 356.000 m² untuk bangunan inti hingga lebih dari 750.000 m² jika area pendukung disertakan. Konfirmasi angka terbaru ke otoritas resmi dianjurkan.

Siapa yang membangun kubah di Masjidil Haram?

Kubah batu yang menggantikan atap kayu datar pertama kali dibangun pada era Utsmaniyah awal 1570-an, atas perintah Sultan Selim dan dilanjutkan Sultan Murad, dengan rancangan arsitek Mimar Sinan.

Berapa kapasitas Masjidil Haram setelah proyek Raja Salman?

Lima paket proyek yang diluncurkan Raja Salman pada 2015 ditargetkan menampung lebih dari 1,6 juta jamaah sekaligus, dengan sejumlah sumber menyebut potensi hingga sekitar 2,5 juta jamaah pada musim-musim padat.

Apakah bangunan asli zaman Nabi masih ada di Masjidil Haram?

Sebagian besar struktur sudah berganti karena dibongkar dan diperluas berulang kali selama 14 abad. Yang masih bisa dikenali umumnya elemen dari era Utsmaniyah, serta titik bersejarah seperti Maqam Ibrahim dan Hijr Ismail.

Sumber

  1. Masjidil Haram - Wikipedia Bahasa Indonesia
  2. Perluasan Masjidil Haram dari Masa Khalifah Umar bin Khattab hingga Raja Salman - Odisie Travel
  3. Sejarah Perluasan Masjidil Haram, Dari Zaman Nabi Ibrahim Hingga Era Saudi - Merdeka.com

Bacaan lain