Arfa Tours Daftar Umrah

Gua Hira dan Gua Tsur: Dua Situs Sejarah di Makkah

· Tempat & sejarah (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, situs ziarah Makkah–Madinah)
Pemandangan Jabal Nur, gunung batu di Makkah yang menjadi lokasi Gua Hira
Foto: Wal N. — CC BY 2.0 · sumber

Gua Hira dan Gua Tsur adalah dua situs bersejarah di seputar Makkah yang kerap ingin dikunjungi jamaah umrah dan haji. Gua Hira, di Jabal Nur, adalah tempat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama. Gua Tsur, di Jabal Tsur, adalah tempat beliau bersembunyi bersama Abu Bakar saat hijrah ke Madinah. Ziarah ke keduanya bukan bagian dari rukun maupun wajib umrah, sifatnya pilihan pribadi, dan ada beberapa hal soal keselamatan serta akses yang perlu dicek lebih dulu sebelum memutuskan mendaki.

Gua Hira: Tempat Turunnya Wahyu Pertama

Gua Hira berada di punggung Jabal Nur, gunung yang oleh banyak sumber disebut "Gunung Cahaya", sekitar lima kilometer di sebelah timur laut Masjidil Haram. Gua ini berada pada ketinggian sekitar 640 meter dari dasar, dengan ukuran yang sangat terbatas: kira-kira tiga sampai empat meter panjangnya dan hanya sekitar satu setengah sampai dua meter lebarnya, cukup untuk beberapa orang duduk berdesakan.

Menurut riwayat yang banyak dikutip, Nabi Muhammad menerima wahyu pertama di gua ini pada 17 Ramadhan, bertepatan dengan 6 Agustus 610 Masehi, saat usianya sekitar 40 tahun. Saat itu beliau sedang berkhalwat atau menyendiri di Gua Hira untuk merenungi keadaan masyarakat Quraisy yang penuh kesyirikan dan kemaksiatan. Di tempat sunyi inilah, menurut riwayat, Malaikat Jibril datang membawa lima ayat pertama Surah Al-'Alaq.

Jalur Pendakian

Jalur menuju Gua Hira berupa anak tangga batu yang menanjak sekitar 300 meter, dan umumnya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk pendaki dengan stamina cukup. Waktu turun biasanya lebih singkat, sekitar 45 menit, namun tetap perlu kehati-hatian karena jalur sempit, berbatu, dan tanpa pelindung dari terik matahari di banyak titik.

Gua Tsur: Saksi Perjalanan Hijrah

Berbeda arah dengan Jabal Nur, Gua Tsur berada di Jabal Tsur, gunung di sebelah selatan Makkah ke arah Thaif, dengan jarak sekitar tujuh kilometer dari Masjidil Haram. Bentuk gua ini unik, digambarkan seperti wajan terbalik, dengan tinggi sekitar 1,25 meter serta panjang dan lebar masing-masing sekitar 3,5 meter. Gua ini memiliki dua lubang masuk, di sisi timur dan barat.

Gua Tsur dikenal sebagai tempat persembunyian Nabi Muhammad dan Abu Bakar Ash-Shiddiq selama tiga hari saat hijrah ke Madinah pada 622 Masehi, ketika kaum Quraisy memburu mereka. Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an, Surah At-Taubah ayat 40, yang menceritakan bagaimana Allah menenangkan Nabi dengan firman yang intinya menyatakan bahwa Allah menyertai mereka, saat keduanya berada di dalam gua.

Selama persembunyian, beberapa sahabat membantu dari luar tanpa diketahui kaum Quraisy: Abdullah bin Abu Bakar membawa kabar dari Makkah setiap malam, Asma binti Abu Bakar menyiapkan bekal makanan, dan Amir bin Fuhairah menggembalakan kambing ke sekitar gua untuk menyediakan susu sekaligus menyamarkan jejak kaki mereka.

Perbandingan Singkat Dua Situs

AspekGua Hira (Jabal Nur)Gua Tsur (Jabal Tsur)
Peristiwa utamaTurunnya wahyu pertama, QS Al-'Alaq 1-5Persembunyian saat hijrah, QS At-Taubah 40
Lokasi dari Masjidil HaramSekitar 5 km, arah timur lautSekitar 7 km, arah selatan ke Thaif
Ukuran guaSekitar 3-4 m x 1,5-2 mTinggi 1,25 m, panjang dan lebar sekitar 3,5 m
Karakter jalurMenanjak sekitar 300 m, sekitar 1 jam naikDikenal lebih terjal dan menantang

Apakah Ziarah ke Gua Hira dan Gua Tsur Termasuk Rangkaian Umrah?

Jawaban singkatnya: tidak. Mengunjungi Gua Hira, Gua Tsur, atau situs bersejarah lain di Makkah dan Madinah bukan rukun, bukan wajib, dan bukan pula sunnah muakkadah dalam ibadah umrah maupun haji. Jamaah yang tidak sempat atau tidak ingin mendaki tidak kehilangan apa pun dari keabsahan umrahnya.

Soal hukumnya, ulama memiliki pandangan yang berbeda. Komite fatwa Al Lajnah Ad Daimah menilai mengunjungi Gua Hira bukan bagian dari syiar haji atau Islam, melainkan perbuatan yang dikhawatirkan menjadi sarana menuju kesyirikan, karena para sahabat dan pemimpin Muslim terdahulu tidak melakukannya sebagai bagian dari ibadah. Pandangan lain, seperti dari Syaikh Habib Alwi bin Abdul Qadir Assegaf, menyebut mengunjungi tempat bersejarah sebagai ibadah memang terlarang, tetapi jika tujuannya semata pembelajaran sejarah, tanpa perjalanan khusus yang menyerupai ibadah dan tanpa melakukan shalat, zikir, atau tabarruk di lokasi, hal itu dapat ditoleransi.

Ulama klasik pun berbeda pendapat: An-Nawawi menganjurkan mengunjungi Gua Hira sebagai tempat yang memiliki keutamaan, Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa Nabi tidak menjadikan pendakian itu sebagai ibadah setelah turunnya wahyu sehingga tidak perlu diperlakukan seperti ritual, sementara Ibnu Utsaimin mengambil jalan tengah: boleh dikunjungi untuk melihat-lihat tanpa menjadikan pendakiannya sebagai bentuk ibadah. Dari berbagai pandangan ini, satu hal yang disepakati: ziarah ke Gua Hira dan Gua Tsur bukan bagian dari rukun maupun wajib haji dan umrah.

Hal yang Perlu Dicek Sebelum Mendaki

Selain soal hukum, ada pertimbangan praktis yang sebaiknya dicek lebih dulu:

  • Aturan akses bisa berubah. Pada April 2018, otoritas setempat melalui Kantor Pangeran Makkah pernah menutup sementara jalur pendakian ke Gua Hira setelah ada pengunjung yang terjatuh dari gunung, dengan alasan keselamatan sekaligus kekhawatiran praktik yang menyerupai ibadah di lokasi tersebut. Saat itu jamaah masih bisa memandang lokasi dari bawah. Karena ketentuan semacam ini bisa berubah sewaktu-waktu, tanyakan status akses terkini kepada pembimbing atau muthawwif sebelum berangkat, jangan mengandalkan informasi lama.
  • Medan cukup berat. Jalur ke Gua Hira maupun Gua Tsur berbatu, menanjak, dan di sejumlah titik tidak ada pegangan atau pembatas. Pendaki dengan riwayat jantung, hipertensi, atau gangguan sendi dan lutut sebaiknya mempertimbangkan ulang, atau cukup berziarah dari kaki gunung.
  • Cuaca panas tanpa pelindung. Sepanjang jalur umumnya tidak ada atap atau tempat berteduh, sehingga perlu membawa air minum yang cukup dan menghindari jam-jam dengan suhu paling terik.
  • Jangan mendaki sendirian. Lebih aman bila mendaki bersama rombongan, pembimbing, atau setidaknya satu pendamping, mengingat jalurnya sepi di beberapa ruas dan rawan tersesat saat gelap.
  • Jaga niat ziarah. Mengingat perbedaan pandangan ulama di atas, sebagian jamaah memilih memosisikan kunjungan ini sebagai napak tilas sejarah, bukan ibadah tersendiri, serta tidak melakukan ritual khusus seperti berdoa dengan tata cara tertentu di dalam gua.

Tips Praktis bagi Jamaah

Bila jamaah tetap berencana mendaki, beberapa hal sederhana ini bisa membantu perjalanan lebih nyaman dan aman:

  • Gunakan sepatu tertutup yang nyaman untuk medan berbatu, bukan sandal.
  • Bawa air minum, topi atau penutup kepala, serta kain untuk menyeka keringat.
  • Pilih waktu dengan suhu lebih bersahabat, misalnya pagi hari, dan hindari jam-jam dengan panas paling menyengat.
  • Perhatikan kondisi fisik rombongan, terutama jamaah lanjut usia; tidak ada keharusan untuk sampai ke puncak jika kondisi tidak memungkinkan.
  • Koordinasikan rencana ziarah ini dengan pembimbing perjalanan agar tidak mengganggu jadwal ibadah utama di Masjidil Haram maupun agenda rombongan lainnya.

Dalam paket perjalanan, Arfa Tours biasanya menyertakan agenda ziarah sejarah di Makkah dan Madinah sebagai pelengkap, bukan pengganti, ibadah utama. Jamaah yang berencana mendaki Jabal Nur atau Jabal Tsur di luar jadwal rombongan dapat berkonsultasi lebih dulu dengan pembimbing Arfa Tours mengenai waktu, kondisi lapangan, dan hal-hal yang perlu disiapkan.

Ziarah Sejarah, Bukan Kewajiban

Gua Hira dan Gua Tsur menyimpan dua peristiwa besar dalam sejarah Islam: turunnya wahyu pertama dan perlindungan Allah saat hijrah. Keduanya layak diingat, tetapi mengunjunginya secara fisik tetap bersifat pilihan, bukan bagian dari tata cara umrah yang harus dipenuhi. Jamaah bisa memilih untuk mendaki jika kondisi fisik dan waktu memungkinkan, atau cukup mengenal kisahnya tanpa harus naik ke lokasi, karena nilai sejarah dari kedua tempat ini tidak berkurang hanya karena tidak didatangi secara langsung.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah ziarah ke Gua Hira termasuk rangkaian ibadah umrah?

Tidak. Mengunjungi Gua Hira bukan rukun, wajib, maupun sunnah muakkadah dalam umrah atau haji. Sebagian ulama membolehkannya sebagai napak tilas sejarah selama tidak diniatkan sebagai ibadah tersendiri, sementara ulama lain menilainya bid'ah jika disertai ritual khusus di lokasi.

Berapa lama waktu mendaki Jabal Nur ke Gua Hira?

Pendakian ke Gua Hira di Jabal Nur umumnya memakan waktu sekitar satu jam bagi orang dengan stamina cukup, dengan jalur menanjak sekitar 300 meter. Waktu turun biasanya lebih singkat, sekitar 45 menit, namun jalurnya tetap berbatu dan perlu kehati-hatian.

Apa yang terjadi di Gua Tsur saat hijrah Nabi Muhammad?

Gua Tsur adalah tempat Nabi Muhammad dan Abu Bakar bersembunyi selama tiga hari dari kejaran kaum Quraisy saat hijrah ke Madinah pada 622 Masehi. Kisah ini diabadikan dalam Surah At-Taubah ayat 40, dengan bantuan beberapa sahabat yang mengirim kabar dan bekal secara sembunyi-sembunyi.

Apakah boleh mendaki Gua Hira dan Gua Tsur saat umrah?

Secara umum dapat ditoleransi sebagai kunjungan sejarah, bukan ibadah, dengan syarat tidak melakukan ritual khusus seperti shalat atau doa tertentu di lokasi. Namun akses dan aturan di lapangan bisa berubah, sehingga sebaiknya tanyakan status terkini kepada pembimbing sebelum mendaki.

Apakah Gua Hira pernah ditutup untuk jamaah?

Ya, otoritas setempat pernah menutup sementara jalur pendakian ke Gua Hira pada April 2018 setelah ada pengunjung terjatuh dari gunung, dengan alasan keselamatan dan kekhawatiran praktik yang menyerupai ibadah. Saat itu jamaah masih bisa memandang lokasi dari bawah.

Sumber

  1. Gua Hira - Wikipedia Bahasa Indonesia
  2. Gua Tsur, Tempat yang Digunakan Nabi Muhammad untuk Bersembunyi saat Hijrah - detikHikmah
  3. Fatwa Ulama: Hukum Mengunjungi Gua Hira dan Tempat Bersejarah Lainnya Ketika Haji - Muslim.or.id
  4. The Cave of Hira on Jabal an-Nur — the Mountain, the Climb, the Ruling - MakkahLive
  5. Cave of Hira closed to pilgrims - Voice of the Cape

Bacaan lain