Arfa Tours Daftar Umrah

Raudhah dan Kubah Hijau: Sejarah Masjid Nabawi

· Tempat & sejarah (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, situs ziarah Makkah–Madinah)
Kubah hijau di atas makam Nabi Muhammad di kompleks Masjid Nabawi, Madinah
Foto: Wadie Al-Houh — CC0 1.0 · sumber

Raudhah adalah area seluas sekitar 330 meter persegi di dalam Masjid Nabawi, Madinah, yang terletak di antara mimbar Rasulullah dan makam beliau, ditandai karpet berwarna hijau muda yang berbeda dari karpet merah di area lain. Tempat ini disebut 'Taman Surga' karena ada hadits yang menyebutkan keutamaannya. Sementara itu, kubah hijau yang menjadi ikon Madinah menandai lokasi makam Rasulullah dan dicat hijau sejak 1837 M. Keduanya adalah bagian dari sejarah panjang Masjid Nabawi yang terus berkembang sejak pertama kali dibangun pada 622 M.

Dari Rumah Tanah Liat ke Masjid Raksasa

Masjid Nabawi pertama kali dibangun oleh Rasulullah pada tahun pertama setelah hijrah dari Makkah ke Madinah (622 M). Bangunan awal ini sangat sederhana: dinding dari tanah liat, tiang dari batang pohon kurma, dan atap dari pelepah kurma, dengan luas sekitar 30,5 x 35,6 meter. Fungsinya bukan hanya tempat shalat, tetapi juga pusat kegiatan Rasulullah dan para sahabat.

Perluasan pertama terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab, memperbesar masjid menjadi sekitar 57,49 x 66,14 meter. Khalifah Utsman bin Affan melanjutkannya pada 649 M dengan mengganti tiang kurma menjadi tiang batu, memperluas area menjadi sekitar 81,40 x 62,58 meter. Perubahan besar berikutnya datang pada masa Khalifah Umayyah al-Walid I (706-707 M), yang memperluas masjid hingga 8.672 meter persegi, menambahkan serambi, panel marmer, mozaik, mihrab cekung pertama dalam arsitektur Islam, serta empat menara di sudut-sudut bangunan.

Garis Waktu Perluasan Utama

MasaPerubahan Utama
622 M — RasulullahBangunan awal, dinding tanah liat, atap pelepah kurma
Khalifah UmarPerluasan menjadi sekitar 57 x 66 meter
649 M — Khalifah UtsmanTiang batu menggantikan batang kurma
706-707 M — Al-Walid I (Umayyah)Perluasan besar, mihrab cekung pertama, empat menara
1817 M — Sultan Mahmud II (Utsmaniyah)Rekonstruksi area Raudhah dan kubah di atas makam
1837 MKubah dicat hijau untuk pertama kalinya
1985-1992 M — era SaudiPenambahan 27 halaman dengan kubah bergerak, enam menara baru setinggi hampir 104 meter

Kubah Hijau: Penanda Makam Rasulullah

Pada masa Rasulullah masih hidup, bahkan bertahun-tahun setelah beliau wafat, tidak ada kubah apa pun di atas area makamnya. Rasulullah dimakamkan di kamar istrinya, Aisyah, yang letaknya bersebelahan langsung dengan masjid. Kubah pertama baru dibangun berabad-abad kemudian, pada masa Kesultanan Mamluk di bawah Sultan Al-Mansur Qalawun sekitar 1279 M, terbuat dari kayu berlapis timah.

Sejarah kubah ini sempat mengalami masa kelam. Pada 1481 M, kebakaran besar menghancurkan sebagian Masjid Nabawi, termasuk kubah kayu tersebut. Sultan Qa'itbay dari Mesir membangun ulang strukturnya dengan dasar bata agar lebih tahan lama. Perubahan berikutnya terjadi pada 1817 M, ketika Sultan Mahmud II dari Utsmaniyah merekonstruksi area Raudhah beserta kubahnya. Warna hijau ikonik yang kita kenal sekarang baru hadir pada 1837 M — sejak saat itu, kubah ini dikenal luas sebagai Kubah Hijau (Al-Qubba al-Khadra).

Kubah ini berada di sisi tenggara masjid, tepat di atas makam Rasulullah serta dua sahabat terdekatnya, Abu Bakar dan Umar bin Khattab, yang juga dimakamkan di lokasi yang sama. Posisi ini membuat Kubah Hijau menjadi penanda arah paling mudah dikenali dari kejauhan, sekaligus titik ziarah utama bagi jemaah yang berkunjung ke Madinah.

Raudhah, Taman Surga di Antara Mimbar dan Makam

Raudhah berasal dari kata Arab yang berarti 'taman'. Area ini berbatasan dengan rumah Aisyah (lokasi makam Rasulullah) di sisi timur, mimbar Rasulullah di sisi barat, serta batas mihrab masjid asli di sisi utara dan selatan. Dasar penyebutan 'Taman Surga' merujuk pada sabda Rasulullah bahwa ruang antara rumah dan mimbarnya adalah salah satu taman di antara taman-taman surga.

Karena posisinya yang terbatas sementara jumlah peziarah sangat besar, otoritas Masjid Nabawi mengatur akses masuk Raudhah secara bergiliran. Jemaah laki-laki dan perempuan memiliki jadwal serta pintu masuk yang berbeda, dan durasi kunjungan di dalam biasanya dibatasi sekitar sepuluh menit agar jemaah lain juga mendapat giliran.

Cara Masuk Raudhah Lewat Aplikasi Nusuk

Sejak beberapa tahun terakhir, akses ke Raudhah diatur melalui aplikasi resmi Nusuk milik otoritas Arab Saudi. Secara umum, langkahnya adalah sebagai berikut.

  • Unduh aplikasi Nusuk dan buat akun menggunakan data paspor serta nomor visa umrah.
  • Pilih layanan terkait Masjid Nabawi, lalu pilih kategori sesuai gender.
  • Pilih tanggal dan slot waktu yang masih tersedia; setiap slot biasanya berdurasi sekitar 30 menit.
  • Simpan kode QR yang muncul untuk dipindai petugas di gerbang masuk.
  • Datang lebih awal dari jadwal untuk mengantisipasi pemeriksaan keamanan dan jarak berjalan menuju gerbang.

Slot pemesanan sering penuh dalam hitungan detik setelah dibuka, sehingga disarankan memeriksa aplikasi secara berkala. Perlu diingat, layanan ini sepenuhnya gratis — jemaah sebaiknya waspada bila ada pihak yang meminta bayaran untuk 'membantu' pemesanan Raudhah. Karena aturan teknis seperti nomor gerbang dan jam operasional bisa berubah sewaktu-waktu, selalu cek informasi terbaru lewat aplikasi Nusuk resmi atau petugas di lapangan sebelum berangkat ke masjid.

Perluasan Era Saudi dan Kapasitas Masa Kini

Setelah berdirinya Kerajaan Arab Saudi, pemerintah melakukan beberapa kali perluasan besar terhadap Masjid Nabawi, dimulai sekitar 1951 dan berlanjut pada dekade-dekade berikutnya. Perluasan paling besar berlangsung pada periode 1985-1992, menambahkan puluhan halaman baru dengan kubah yang bisa dibuka-tutup, enam menara baru dengan ketinggian mendekati 104 meter, serta infrastruktur bawah tanah untuk mendukung jutaan jemaah. Dari ukuran asli puluhan meter persegi pada masa Rasulullah, kompleks Masjid Nabawi kini diperkirakan mampu menampung sekitar satu juta jemaah sekaligus, dengan rencana perluasan lanjutan di masa mendatang.

Bagi jemaah yang berangkat bersama kelompok resmi seperti Arfa Tours, memahami latar sejarah ini membantu menghayati setiap sudut masjid — bukan sekadar tahu lokasi Raudhah atau Kubah Hijau, tetapi juga memahami mengapa tempat-tempat itu begitu dijaga dan diatur aksesnya.

Adab Singkat Saat Ziarah

Beberapa hal praktis yang perlu diperhatikan saat berziarah di area makam dan Raudhah:

  • Doa ditujukan kepada Allah, bukan kepada penghuni makam; mengucap salam kepada Rasulullah dan dua sahabatnya tetap dianjurkan saat melintas di depan makam.
  • Ikuti jalur dan arahan petugas (askar) agar antrean tetap tertib, mengingat jumlah jemaah yang sangat besar setiap waktunya.
  • Jaga ketenangan dan hindari mengambil foto atau video berlebihan di dalam Raudhah agar tidak mengganggu jemaah lain yang sedang beribadah.
  • Jika menggunakan jasa pendamping dari biro perjalanan seperti Arfa Tours, manfaatkan arahan muthawif untuk memahami batas-batas area dan waktu kunjungan yang tersedia.

Sejarah Masjid Nabawi, dari rumah sederhana Rasulullah hingga kompleks raksasa hari ini, menunjukkan bagaimana tempat ini terus dirawat lintas generasi tanpa kehilangan nilai aslinya. Memahami latar belakang ini membuat kunjungan ke Raudhah dan Kubah Hijau terasa lebih bermakna, bukan sekadar mampir untuk berfoto.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa itu Raudhah di Masjid Nabawi?

Raudhah adalah area sekitar 330 meter persegi di antara mimbar Rasulullah dan makam beliau, ditandai karpet hijau. Disebut 'Taman Surga' karena Rasulullah bersabda bahwa tempat itu termasuk salah satu taman surga.

Mengapa kubah Masjid Nabawi berwarna hijau?

Kubah di atas makam Rasulullah awalnya tidak berwarna, lalu dibangun ulang berkali-kali setelah rusak dan terbakar. Kubah dicat hijau pada 1837 M pada masa Utsmaniyah, dan warna itu bertahan hingga sekarang menjadi ciri khasnya.

Bagaimana cara masuk Raudhah sekarang?

Jemaah memesan slot lewat aplikasi Nusuk, memilih layanan Masjid Nabawi sesuai gender, lalu menyimpan kode QR untuk dipindai di gerbang yang ditentukan. Pemesanan gratis dan slot biasanya cepat penuh, jadi sebaiknya dicek berkala.

Kapan Masjid Nabawi pertama kali dibangun?

Masjid Nabawi dibangun pada 622 M setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, dengan dinding tanah liat, tiang batang kurma, dan atap pelepah kurma seluas sekitar 30,5 x 35,6 meter, jauh lebih kecil dari kompleks saat ini.

Berapa kapasitas Masjid Nabawi saat ini?

Setelah perluasan besar era Saudi, terutama proyek 1985-1992, Masjid Nabawi kini diperkirakan mampu menampung sekitar satu juta jemaah, dengan rencana perluasan lanjutan untuk menampung lebih banyak lagi.

Sumber

  1. Al-Masjid an-Nabawi — Wikipedia
  2. Sejarah Kubah Hijau Masjid Nabawi, Landmark Kota Madinah — Liputan6
  3. Mengenal Raudhah, 'Taman Surga' di Masjid Nabawi — Kompas Cahaya
  4. Panduan Izin Raudhah 2026: Cara Memesan di Aplikasi Nusuk — Wego Travel Blog

Bacaan lain