Sejarah Ka'bah dan Kiswah: Bangunan serta Kain Penutupnya
Ka'bah yang dilihat jamaah saat tawaf bukan bangunan tunggal yang berdiri sejak zaman dahulu tanpa perubahan. Bentuknya sekarang adalah hasil renovasi berkali-kali sepanjang sejarah, dan kain hitam yang menutupinya, yaitu kiswah, juga punya riwayat warna, bahan, dan proses pembuatan yang jauh lebih panjang daripada yang biasa diceritakan secara singkat. Memahami sejarah ini bukan sekadar pengetahuan tambahan, tetapi juga membantu jamaah umrah menghayati makna bangunan yang menjadi kiblat shalat umat Islam di seluruh dunia.
Dari Susunan Batu Nabi Ibrahim
Menurut riwayat yang diyakini umat Islam, Ka'bah pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama putranya, Nabi Ismail, atas perintah Allah untuk mendirikan Baitullah. Nabi Ibrahim menyusun batu, sementara Nabi Ismail mengangkut bahan bangunannya. Bentuk awal Ka'bah jauh lebih sederhana dari sekarang: hanya berupa susunan batu setinggi sekitar sembilan hasta, tanpa atap, sehingga apa pun yang disimpan di dalamnya mudah diambil orang.
Kondisi tanpa atap itu membuat Ka'bah rentan terhadap kerusakan, baik karena serangan maupun banjir yang sewaktu-waktu melanda Makkah. Struktur inilah yang kemudian berdiri selama ratusan tahun sebelum mengalami renovasi besar pertama yang tercatat dalam sejarah.
Renovasi Kaum Quraisy dan Kisah Hajar Aswad
Sekitar lima tahun sebelum Nabi Muhammad diutus sebagai rasul, saat usianya sekitar 35 tahun, Makkah dilanda banjir besar yang mengancam kekokohan Ka'bah. Kaum Quraisy akhirnya sepakat merenovasi bangunan tersebut. Mereka berkomitmen hanya menggunakan dana dari sumber yang halal, menolak harta hasil riba, kezaliman, atau penindasan untuk membiayai proyek ini. Al-Walid bin Al-Mughirah tercatat sebagai orang yang memulai pembongkaran, diikuti seluruh kaum Quraisy secara bergotong royong.
Renovasi ini meninggalkan satu kisah yang dikenal luas: perselisihan tentang siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya. Pertikaian antar kabilah berlangsung beberapa hari dan hampir memicu perang terbuka, hingga akhirnya disepakati bahwa orang pertama yang memasuki masjid akan menjadi penengah. Nabi Muhammad, yang saat itu belum diangkat sebagai rasul, menjadi orang tersebut. Beliau menyelesaikan konflik dengan cara yang diterima semua pihak: membentangkan kain, meletakkan Hajar Aswad di atasnya, lalu meminta perwakilan setiap kabilah memegang ujung kain itu bersama-sama sebelum beliau sendiri meletakkan batu tersebut ke posisinya. Setelah renovasi ini selesai, Ka'bah berdiri dengan bentuk mendekati kubus, dengan ketinggian yang disebut mencapai sekitar 15 meter.
Perubahan Bentuk Setelah Islam Datang
Setelah pembebasan Makkah sekitar tahun 629-630 Masehi, Nabi Muhammad membersihkan Ka'bah dari berhala-berhala yang sebelumnya disembah kaum Quraisy, dan sejak itu Ka'bah secara resmi menjadi pusat ibadah umat Islam. Bangunan ini kemudian mengalami beberapa kali perubahan bentuk pada masa setelahnya. Pada tahun 683 Masehi, Abdullah bin Zubair melakukan renovasi besar dengan mengembalikan fondasi Ka'bah mendekati ukuran yang dibangun Nabi Ibrahim, termasuk menambahkan dua pintu. Namun setelah kekuasaan berpindah ke tangan Abdul Malik bin Marwan dari Dinasti Umayyah, struktur Ka'bah dikembalikan ke bentuk sebelumnya seperti pada masa renovasi Quraisy.
Sejak itu, bentuk Ka'bah relatif tidak berubah secara fondasi, meski bangunan di sekitarnya dan perawatan strukturnya terus mendapat perhatian dari penguasa-penguasa yang berkuasa di Jazirah Arab, termasuk pada era Ottoman. Yang terus berganti dari tahun ke tahun bukan bangunan Ka'bah itu sendiri, melainkan kain penutupnya.
Asal Mula Kiswah, Kain yang Menutupi Ka'bah
Tradisi menutupi Ka'bah dengan kain disebut sudah ada sejak sebelum Islam datang. Beberapa riwayat menyebut Tubba' atau Tubu' bin As'ad, seorang raja dari Kerajaan Himyar di Yaman, sebagai salah satu tokoh yang tercatat memberikan penutup resmi untuk Ka'bah menggunakan kain tenun dan kulit hewan sebagai bentuk penghormatan. Pada masa itu, kaum Quraisy di Makkah juga membiasakan diri mengumpulkan dana bersama untuk mengganti kiswah setiap tahun, menggunakan kain yang didatangkan dari Yaman dan Suriah.
Setelah Islam datang, tradisi ini tetap dilanjutkan. Nabi Muhammad sendiri pernah memerintahkan penggantian kiswah ketika kain yang ada rusak akibat kebakaran. Praktik ini kemudian makin terlembaga pada masa Khulafaur Rasyidin. Di era Umar bin Khattab, kiswah memakai kain linen putih dari Mesir dengan desain berlapis. Pada masa Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, bahan kiswah berganti menjadi sutra, dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang disulam menggunakan benang emas. Warna kiswah sendiri sempat berubah-ubah mengikuti kebijakan penguasa pada masanya, mulai dari putih di masa awal Islam, lalu hijau dan merah pada era Umayyah dan Abbasiyah, sebelum akhirnya warna hitam dipilih dan menjadi standar yang dipertahankan hingga sekarang.
Produksi Kiswah di Masa Modern
Produksi kiswah sempat dilakukan di luar Jazirah Arab, termasuk di Mesir, sebelum akhirnya dipindahkan secara penuh ke Makkah. Raja Abdulaziz Al Saud mendirikan bengkel kiswah pertama di Makkah pada 1346 H (sekitar tahun 1927), menandai dimulainya produksi kiswah sepenuhnya oleh pengrajin dan ahli dari berbagai wilayah dunia Islam yang bekerja di tanah Arab sendiri. Fasilitas ini kemudian dimodernisasi dan dipindahkan ke lokasi baru di Umm Al-Joud, Makkah, sekitar 1397 H (sekitar tahun 1977), dan sejak itu dikenal sebagai Kompleks Raja Abdulaziz untuk Kiswah Ka'bah, yang berada di bawah naungan otoritas yang mengelola Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Beberapa detail produksi yang sering disebut sumber-sumber terkait kiswah modern:
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Bahan utama | Sutra hitam, dengan sulaman benang emas dan perak untuk kaligrafi ayat Al-Qur'an |
| Jumlah pengrajin | Sekitar 200 orang lebih, mencakup bagian desain, tenun, dan penyulaman |
| Waktu pembuatan | Disebut berkisar 6-8 bulan untuk satu kiswah |
| Lokasi produksi | Kompleks Raja Abdulaziz untuk Kiswah Ka'bah, Umm Al-Joud, Makkah |
Angka pasti seperti berat total kain, jumlah potongan, atau biaya produksi berbeda-beda di antara sumber yang ada, sehingga jamaah yang ingin mengutip angka spesifik sebaiknya mengonfirmasi ke sumber resmi otoritas Masjidil Haram, bukan sekadar artikel populer.
Kapan Kiswah Diganti?
Selama bertahun-tahun, kiswah diganti setiap tahun menjelang musim haji, tepatnya mendekati 9 Dzulhijjah. Namun sejak 2022, jadwal penggantian dipindahkan ke 1 Muharram, yang menandai tahun baru dalam kalender Hijriah. Kiswah lama setelah diturunkan biasanya tidak dibuang, melainkan dipotong-potong dan sebagian dibagikan sebagai cendera mata kepada tokoh, lembaga, atau museum Islam di berbagai negara, termasuk pernah dibagikan untuk keperluan lain pada masa Khalifah Umar bin Khattab.
Apa Artinya Bagi Jamaah Umrah?
Mengetahui sejarah ini membantu jamaah memahami bahwa Ka'bah dan kiswahnya adalah hasil perawatan dan penghormatan yang diwariskan lintas generasi, bukan sekadar objek foto saat tawaf. Beberapa hal praktis yang perlu diperhatikan saat berada di dekat Ka'bah:
- Hindari menarik, merobek, atau mencium kiswah secara berlebihan karena berisiko merusak kain dan membuat jamaah lain di sekitarnya terdesak.
- Area dekat Ka'bah biasanya sangat padat, terutama pada waktu-waktu tertentu, sehingga disiplin menjaga jarak dan tidak memaksa menyentuh kiswah justru lebih menjaga kekhusyukan ibadah.
- Jika ingin tahu detail teknis seperti berat kiswah atau biaya produksinya, cek sumber resmi karena angka yang beredar di internet sering berbeda-beda.
Arfa Tours membekali jamaahnya dengan informasi seperti ini bukan untuk menambah beban hafalan, tapi agar waktu di depan Ka'bah bisa diisi dengan kekhusyukan, bukan sekadar mengejar foto atau sentuhan simbolik. Mengetahui bahwa bangunan di hadapan jamaah telah melalui ribuan tahun sejarah dan perawatan dari generasi ke generasi semestinya membuat momen tawaf terasa lebih bermakna.
Pada akhirnya, baik kisah renovasi Ka'bah oleh kaum Quraisy maupun sejarah panjang kiswah menunjukkan satu hal yang sama: penghormatan terhadap Baitullah ini dijaga secara serius oleh umat Islam dari masa ke masa. Bagi jamaah yang hendak berumrah bersama Arfa Tours atau penyelenggara resmi lain, membawa pemahaman ini bisa menjadi bekal batin yang melengkapi persiapan dokumen dan fisik yang biasanya menjadi fokus utama sebelum keberangkatan.
Pertanyaan yang sering diajukan
Kapan Ka'bah pertama kali dibangun?
Menurut riwayat yang diyakini umat Islam, Ka'bah pertama dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama putranya Nabi Ismail atas perintah Allah. Bangunan awal berupa susunan batu setinggi sekitar sembilan hasta dan belum memiliki atap.
Kenapa kiswah Ka'bah warnanya hitam?
Warna kiswah berubah-ubah sepanjang sejarah, pernah putih di masa Nabi Muhammad, Umar, dan Utsman, lalu hijau dan merah di era Umayyah. Warna hitam baru menjadi standar sejak masa Kekhalifahan Abbasiyah dan dipakai hingga sekarang.
Berapa kali kiswah Ka'bah diganti dalam setahun?
Saat ini kiswah diganti satu kali dalam setahun. Sejak 2022, penggantian dilakukan setiap 1 Muharram, berbeda dari kebiasaan sebelumnya yang dilakukan menjelang 9 Dzulhijjah saat musim haji.
Apakah jamaah umrah boleh menyentuh kiswah Ka'bah?
Jamaah sebaiknya tidak menarik, mencium berlebihan, atau merobek bagian kiswah karena berisiko merusak kain dan mengganggu jamaah lain di area tawaf yang padat. Menatap dan mendoakan dari jarak wajar sudah cukup sebagai bentuk penghormatan.
Di mana kiswah Ka'bah dibuat sekarang?
Kiswah diproduksi di Kompleks Raja Abdulaziz untuk Kiswah Ka'bah di kawasan Umm Al-Joud, Makkah. Fasilitas ini berada di bawah pengelolaan otoritas Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, menggantikan bengkel-bengkel kecil yang dipakai sebelum era modern.
Sumber
- Kompas Travel - Sejarah Pembangunan Kabah, Kiblat Umat Islam di Dunia
- Muslim.or.id - Renovasi Ka'bah Lima Tahun Sebelum Nabi Diutus Menjadi Rasul
- Detik Hikmah - Sejarah Penggantian Kiswah Ka'bah yang Kini Dilakukan Tiap 1 Muharram
- Himpuh - Sejarah Kiswah, Kain Sutra Hitam Berbalut Benang Emas yang Menutupi Ka'bah
Bacaan lain

Mendampingi Lansia di Tanah Suci: Cuaca, Sinyal, Oleh-Oleh
Panduan praktis bagi jamaah lansia dan pendamping: mengatur jadwal ibadah saat cuaca panas, menjaga komunikasi dengan eSIM, dan memahami aturan oleh-oleh di bagasi.

Gua Hira dan Gua Tsur: Dua Situs Sejarah di Makkah
Gua Hira dan Gua Tsur adalah dua situs bersejarah di Makkah yang terkait wahyu pertama dan hijrah Nabi Muhammad, kerap diziarahi jamaah umrah dan haji.

Menabung Sesuai Musim: Merencanakan Dana Umrah dari Nol
Panduan praktis mengenali komponen biaya umrah, menyusun target menabung bulanan, dan memahami musim yang biasanya lebih hemat untuk berangkat.
