Panduan Umrah: Tata Cara, Doa, Rukun, dan Larangan Ihram
Umrah terdiri dari lima rukun yang harus dilakukan berurutan: ihram (niat) di miqat, tawaf tujuh putaran mengelilingi Kakbah, sa'i tujuh kali antara bukit Safa dan Marwah, tahallul (memotong rambut), lalu tertib. Jika salah satu rukun ini ditinggalkan, umrah dianggap tidak sah dan tidak dapat digantikan dengan membayar dam. Artikel ini menjelaskan urutannya secara lengkap, disertai bacaan doa dan daftar larangan yang berlaku selama berihram.
1. Ihram: Niat di Miqat
Ihram adalah niat memasuki keadaan suci untuk memulai umrah, dan dilakukan di miqat, yaitu batas tempat yang telah ditentukan syariat. Jemaah dari Indonesia biasanya mengambil miqat di atas pesawat menjelang memasuki wilayah Qarnul Manazil atau Yalamlam, tergantung rute penerbangan, atau di Bir Ali (Zulhulaifah) bagi yang berangkat dari Madinah menuju Mekkah. Sebelum berihram, jemaah dianjurkan mandi sunnah, memakai wewangian di badan (bukan di kain ihram), lalu mengenakan pakaian ihram: dua lembar kain tanpa jahitan bagi pria, dan pakaian menutup aurat yang tidak menyerupai cadar/sarung tangan bagi wanita.
Bacaan niat umrah:
"Nawaitul 'umrata wa ahramtu bihi lillahi ta'ala, labbaika Allahumma 'umratan."
Artinya: "Aku berniat umrah dan berihram karenanya karena Allah Ta'ala, aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk berumrah."
Yang menjadi inti dari niat sesungguhnya adalah kesungguhan dalam hati; lafal di atas hanya membantu melafalkan apa yang diniatkan. Setelah niat diucapkan, status ihram resmi berlaku dan seluruh larangan ihram mulai mengikat.
Bacaan Talbiyah
Begitu berihram, jemaah dianjurkan memperbanyak talbiyah sepanjang perjalanan menuju Tanah Suci:
"Labbaik Allaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, laa syariika lak."
Artinya: "Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah. Aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu."
Untuk umrah, talbiyah terus dibaca hingga jemaah tiba di Masjidil Haram dan hendak memulai tawaf. Begitu mendekati Hajar Aswad untuk putaran pertama, talbiyah dihentikan dan diganti dengan takbir serta doa memulai tawaf.
2. Tawaf: Mengelilingi Kakbah
Tawaf adalah mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali, dimulai dan diakhiri sejajar dengan Hajar Aswad, dengan posisi Kakbah selalu berada di sisi kiri tubuh. Tawaf mensyaratkan jemaah dalam keadaan suci dari hadas, sehingga wudu perlu dijaga sebelum memasuki area tawaf. Tidak ada bacaan wajib tertentu di setiap putaran; jemaah boleh membaca zikir, doa, atau ayat Al-Qur'an sesuai kemampuan, termasuk doa memohon kebaikan dunia dan akhirat yang sering dibaca antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.
Setelah tujuh putaran selesai, jemaah dianjurkan salat sunnah dua rakaat di dekat Maqam Ibrahim, atau di tempat lain di Masjidil Haram bila area tersebut padat.
3. Sa'i: Safa dan Marwah
Sa'i adalah berjalan bolak-balik antara bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali, dimulai dari Safa dan berakhir di Marwah. Berbeda dari tawaf, sa'i tidak mensyaratkan wudu; jemaah yang berhadas kecil atau bahkan wanita yang sedang haid maupun nifas tetap dapat melaksanakan sa'i karena syarat suci dari hadas bukan ketentuan sah sa'i.
Saat tiba di Safa, jemaah dianjurkan membaca:
"Innas shafa wal marwata min sya'aa'irillah."
Artinya: "Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebagian dari syiar-syiar Allah."
Selanjutnya jemaah boleh berdoa dengan bahasa apa pun sesuai kebutuhan masing-masing, karena tidak ada doa khusus yang diwajibkan di sepanjang lintasan sa'i.
4. Tahallul: Mencukur Rambut
Tahallul menandai berakhirnya masa ihram. Bagi pria, disunnahkan mencukur habis rambut kepala (gundul), meski memotong sebagian juga dianggap cukup. Bagi wanita, cukup memotong ujung rambut sepanjang ruas jari. Setelah tahallul, seluruh larangan ihram gugur dan rangkaian umrah selesai.
Daftar Larangan Selama Ihram
Sejak niat diucapkan di miqat hingga tahallul, jemaah wajib menjaga diri dari larangan berikut. Sebagian berlaku untuk pria dan wanita, sebagian khusus salah satunya.
| Berlaku untuk semua | Khusus pria | Khusus wanita |
|---|---|---|
| Memakai wewangian pada badan, pakaian, atau kain ihram | Memakai pakaian berjahit yang membentuk tubuh | Menutup wajah dengan cadar/niqab |
| Memotong atau mencabut kuku | Menutup kepala dengan peci, sorban, atau topi | Memakai sarung tangan yang menutup telapak tangan |
| Mencukur atau mencabut rambut dan bulu badan | Memakai kaos kaki/sepatu yang menutup mata kaki dan tumit | |
| Berburu atau membunuh binatang darat yang halal | ||
| Melangsungkan atau menjadi wali akad nikah | ||
| Bercumbu, bersentuhan dengan syahwat, hingga berhubungan suami-istri |
Konsekuensi bagi jemaah yang melanggar larangan seperti mencukur rambut, memotong kuku, atau memakai wewangian umumnya berupa dam yang dapat dipilih salah satu: menyembelih seekor kambing, bersedekah kepada enam orang fakir miskin, atau berpuasa tiga hari. Untuk pelanggaran berat seperti hubungan suami-istri sebelum tahallul awal, ketentuan dam berbeda dan lebih besar. Karena setiap kasus dapat memiliki hukum yang berbeda tergantung waktu dan kondisi pelanggaran, jemaah disarankan berkonsultasi langsung dengan pembimbing ibadah begitu menyadari sebuah larangan terlanggar, agar dam yang dikenakan sesuai dan tidak menimbulkan keraguan.
Yang Perlu Disiapkan Sebelum Berangkat
- Pahami urutan rukun umrah di atas sejak dari rumah, sehingga di lapangan tinggal mempraktikkan.
- Hafalkan atau simpan catatan bacaan niat, talbiyah, dan doa di Safa agar tidak tergesa saat momen pelaksanaan.
- Kenakan pakaian ihram yang nyaman dan pastikan sudah dalam kondisi bersih sebelum niat di miqat, karena setelah niat, penggantian pakaian ihram tunduk pada larangan yang berlaku.
- Pastikan menggunakan jasa Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) yang berizin resmi dan terdaftar di Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia, agar bimbingan manasik dan pendampingan selama di Tanah Suci berjalan sesuai standar yang berlaku.
Arfa Tours menyediakan bimbingan manasik sebelum keberangkatan agar jemaah memahami urutan ibadah dan larangan ihram dengan baik sebelum tiba di Tanah Suci. Persiapan yang matang membantu jemaah menjalankan setiap rukun dengan tenang, tanpa tergesa, dan tetap fokus pada kekhusyukan ibadah.
Kesimpulan
Tata cara umrah pada dasarnya sederhana bila dipahami urutannya: niat di miqat, tawaf, sa'i, lalu tahallul. Bagian yang perlu perhatian ekstra justru menjaga diri dari larangan ihram selama proses berlangsung, karena pelanggaran—sekecil apa pun—umumnya berkonsekuensi dam. Mempelajari bacaan doa dan daftar larangan sejak sebelum berangkat akan membuat pelaksanaan ibadah di Tanah Suci lebih tenang dan sesuai tuntunan.
Pertanyaan yang sering diajukan
apa saja rukun umrah
Rukun umrah ada lima: ihram (niat), tawaf mengelilingi Kakbah tujuh kali, sa'i antara Safa dan Marwah tujuh kali, tahallul (mencukur atau memotong rambut), dan tertib yaitu melakukannya sesuai urutan. Jika salah satu ditinggalkan, umrah tidak sah dan tidak bisa diganti dengan dam.
bagaimana bacaan niat umrah yang benar
Niat umrah dibaca di miqat: "Nawaitul 'umrata wa ahramtu bihi lillahi ta'ala, labbaika Allahumma 'umratan" yang artinya "Aku berniat umrah dan berihram karenanya karena Allah Ta'ala, aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk berumrah". Yang terpenting niat ada dalam hati, lafal ini hanya bantuan lisan.
apa saja larangan ihram bagi jemaah umrah
Larangan berlaku untuk pria dan wanita meliputi memakai wewangian, memotong kuku, mencukur atau mencabut rambut/bulu badan, berburu binatang darat, dan berhubungan suami-istri. Pria dilarang memakai pakaian berjahit dan menutup kepala; wanita dilarang menutup wajah dan memakai sarung tangan.
kapan talbiyah mulai dan berhenti dibaca
Talbiyah mulai dibaca begitu niat ihram diucapkan di miqat dan terus dilantunkan sepanjang perjalanan menuju Tanah Suci. Untuk umrah, talbiyah berhenti ketika jemaah akan memulai tawaf, tepatnya saat mendekati Hajar Aswad untuk putaran pertama.
apa yang terjadi jika melanggar larangan ihram
Pelanggaran seperti mencukur rambut, memotong kuku, atau memakai wewangian umumnya dikenai dam berupa menyembelih seekor kambing, bersedekah kepada enam fakir miskin, atau berpuasa tiga hari. Untuk pelanggaran yang lebih berat, ketentuan dam berbeda dan sebaiknya dikonsultasikan kepada pembimbing ibadah.
Sumber
Bacaan lain

Mendampingi Lansia di Tanah Suci: Cuaca, Sinyal, Oleh-Oleh
Panduan praktis bagi jamaah lansia dan pendamping: mengatur jadwal ibadah saat cuaca panas, menjaga komunikasi dengan eSIM, dan memahami aturan oleh-oleh di bagasi.

Gua Hira dan Gua Tsur: Dua Situs Sejarah di Makkah
Gua Hira dan Gua Tsur adalah dua situs bersejarah di Makkah yang terkait wahyu pertama dan hijrah Nabi Muhammad, kerap diziarahi jamaah umrah dan haji.

Menabung Sesuai Musim: Merencanakan Dana Umrah dari Nol
Panduan praktis mengenali komponen biaya umrah, menyusun target menabung bulanan, dan memahami musim yang biasanya lebih hemat untuk berangkat.
