Manasik Umrah Langkah demi Langkah: Niat sampai Tahallul
Umrah terdiri dari empat rukun yang wajib dikerjakan berurutan: ihram (niat di miqat), tawaf mengelilingi Ka'bah tujuh kali, sa'i antara bukit Safa dan Marwah tujuh kali, lalu tahallul dengan mencukur atau memotong rambut. Selama berihram, jemaah wajib menghindari larangan tertentu, mulai dari memakai wewangian hingga memotong kuku. Berikut urutan langkah demi langkah pelaksanaan umrah lengkap dengan lafal doa dan larangan ihram yang perlu diketahui sebelum berangkat.
Rukun Umrah: Empat Hal yang Tidak Bisa Ditinggalkan
Berbeda dengan sunnah yang boleh dilewatkan, rukun umrah wajib dikerjakan semua dan berurutan. Jika salah satu tertinggal, umrah dianggap tidak sah dan harus diulang dari awal. Empat rukun tersebut adalah:
- Ihram — niat memulai umrah di miqat yang telah ditentukan.
- Tawaf — mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran, dimulai dan diakhiri di titik sejajar Hajar Aswad.
- Sa'i — berjalan bolak-balik antara Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali.
- Tahallul — mencukur atau memotong rambut sebagai tanda selesainya ihram.
Selain rukun, ada juga syarat wajib umrah seperti beragama Islam, balig, berakal, merdeka, dan mampu secara fisik maupun finansial — hal yang biasanya sudah dipastikan sejak proses pendaftaran melalui biro penyelenggara.
Kapan dan Di Mana Berniat Ihram (Miqat)
Miqat adalah titik batas yang ditentukan sebagai tempat memulai niat ihram, dan lokasinya berbeda tergantung arah kedatangan jemaah. Jemaah Indonesia yang mendarat atau transit di Madinah lebih dulu biasanya mengambil miqat di Bir Ali (Dzulhulaifah) sebelum menuju Makkah, sedangkan jemaah yang langsung menuju Jeddah umumnya mengambil miqat di atas pesawat saat melintasi garis sejajar miqat udara, sesuai arahan pembimbing ibadah. Melewati miqat tanpa berihram termasuk pelanggaran yang mengharuskan dam, sehingga penting mengikuti pengumuman dari pembimbing selama perjalanan.
Langkah Demi Langkah Pelaksanaan Umrah
1. Niat dan Ihram di Miqat
Sebelum mengenakan kain ihram, dianjurkan mandi, memotong kuku, dan merapikan rambut karena setelah niat diucapkan, semua itu menjadi larangan. Pria mengenakan dua lembar kain putih tanpa jahitan, sedangkan wanita memakai pakaian menutup aurat yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
Niat umrah dilafalkan sebagai berikut:
نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهِ لِلَّهِ تَعَالَى
"Nawaitul 'umrata wa ahramtu bihi lillahi ta'ala"
Artinya: "Aku niat mengerjakan umrah dan berihram karenanya karena Allah Ta'ala."
Setelah niat, jemaah memperbanyak talbiyah sepanjang perjalanan menuju Masjidil Haram hingga saat akan memulai tawaf:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ
"Labbaikallāhumma labbaik, labbaika lā syarīka laka labbaik, innal-hamda wan-ni'mata laka wal-mulk, lā syarīka lak."
Artinya: "Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu."
2. Tawaf Mengelilingi Ka'bah
Tawaf dimulai dari titik sejajar Hajar Aswad, mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran dengan arah berlawanan jarum jam. Jika memungkinkan, jemaah disunnahkan mencium atau mengusap Hajar Aswad; bila tidak, cukup memberi isyarat dengan tangan sambil mengucap takbir setiap kali melewati titik tersebut.
Tidak ada bacaan wajib khusus di setiap putaran, sehingga jemaah bebas berdoa, berzikir, atau membaca Al-Qur'an. Namun ada satu doa yang umum dibaca antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad pada putaran terakhir:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina 'adzaban nar."
Artinya: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka."
Setelah tujuh putaran selesai, jemaah disunnahkan salat dua rakaat di dekat Maqam Ibrahim atau di area mana pun dalam Masjidil Haram jika tempat tersebut penuh.
3. Sa'i antara Safa dan Marwah
Sa'i dimulai dari Safa dan berakhir di Marwah, ditempuh tujuh kali (Safa ke Marwah dihitung satu kali, Marwah ke Safa hitungan berikutnya). Saat tiba di Safa dan Marwah, jemaah menghadap ke arah Ka'bah dan disunnahkan membaca:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ
"Innash shafa wal marwata min sya'airillah."
Artinya: "Sesungguhnya Safa dan Marwah termasuk sebagian syiar-syiar Allah."
Pria yang melintasi area bertanda lampu hijau disunnahkan mempercepat langkah, sementara wanita berjalan biasa. Sepanjang sa'i, jemaah bebas berdoa sesuai kebutuhan masing-masing.
4. Tahallul
Tahallul menandai selesainya ihram sehingga larangan-larangan selama ihram kembali diperbolehkan. Pria disunnahkan mencukur habis rambut kepala (lebih utama) atau minimal memotong merata seluruh bagian rambut. Wanita cukup memotong ujung rambut sepanjang kurang lebih dua hingga tiga sentimeter, diambil dari beberapa helai rambut. Setelah tahallul, rangkaian umrah selesai dan jemaah boleh mengganti pakaian ihram dengan pakaian biasa.
Larangan Selama Ihram
Sejak niat ihram diucapkan hingga tahallul, ada sejumlah hal yang dilarang. Sebagian berlaku untuk pria dan wanita, sebagian lain khusus salah satu jenis kelamin.
| Larangan | Berlaku untuk |
|---|---|
| Memakai wewangian pada badan atau pakaian ihram | Pria dan wanita |
| Mencukur atau mencabut rambut/bulu badan | Pria dan wanita |
| Memotong kuku tangan atau kaki | Pria dan wanita |
| Memburu atau membunuh binatang buruan darat | Pria dan wanita |
| Melangsungkan atau menjadi wali akad nikah | Pria dan wanita |
| Bercumbu, berciuman, atau berhubungan suami istri | Pria dan wanita |
| Bertengkar, berkata kotor, atau berbuat maksiat | Pria dan wanita |
| Memakai pakaian berjahit dan menutup kepala | Pria |
| Menutup wajah dengan cadar/niqab atau memakai sarung tangan | Wanita |
Larangan berhubungan suami istri adalah pelanggaran paling berat karena dapat membatalkan umrah bila dilakukan sebelum tahallul. Jemaah yang terlanjur melanggar tetap wajib menyelesaikan rangkaian ibadahnya, lalu mengulang umrah (qada) di kesempatan berikutnya.
Dam: Konsekuensi Jika Larangan Ihram Dilanggar
Untuk pelanggaran selain hubungan suami istri, jemaah yang melanggar wajib membayar dam (denda), dengan pilihan salah satu dari:
- Menyembelih seekor kambing atau domba sesuai ketentuan syariat.
- Bersedekah makanan senilai tiga sha' (sekitar sembilan kilogram) untuk dibagikan kepada enam orang fakir miskin.
- Berpuasa selama tiga hari.
Jenis dan besaran dam bisa berbeda tergantung jenis pelanggaran, sehingga sebaiknya dikonsultasikan langsung dengan pembimbing ibadah begitu ada larangan yang tidak sengaja dilanggar, alih-alih menunda dan berharap terlupakan.
Regulasi yang Perlu Diketahui Jemaah
Di tingkat nasional, penyelenggaraan umrah diawasi oleh Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia, termasuk standar layanan minimal bagi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU). Aturan ini terus diperbarui, sehingga detail seperti nomor peraturan atau ketentuan teknis terbaru sebaiknya dikonfirmasi langsung ke kanal resmi kementerian atau biro penyelenggara sebelum keberangkatan.
Arfa Tours, sebagai PPIU yang mengantongi izin resmi, membekali jemaah dengan pembimbing ibadah yang mendampingi setiap tahap manasik — mulai dari niat di miqat hingga tahallul — agar rukun dan larangan ihram tidak terlewat atau tidak sengaja dilanggar.
Tips Praktis Agar Manasik Berjalan Lancar
- Hafalkan atau bawa catatan lafal niat dan talbiyah sebelum berangkat agar tidak gugup saat di miqat.
- Potong kuku dan rapikan rambut sebelum mandi ihram, karena setelah niat kedua hal ini menjadi larangan.
- Gunakan alas kaki yang nyaman untuk tawaf dan sa'i karena jaraknya cukup jauh dan area sering padat.
- Ikuti arahan pembimbing ibadah saat berada di area Hajar Aswad atau Rukun Yamani agar tidak terdorong kerumunan.
- Jika ragu apakah suatu tindakan termasuk larangan ihram, tanyakan langsung kepada pembimbing sebelum melakukannya, bukan setelah kejadian.
Dengan memahami urutan rukun, bacaan, dan larangan ihram sejak dari rumah, jemaah bisa lebih tenang menjalani manasik dan fokus pada kekhusyukan ibadah, bukan pada kebingungan teknis di lapangan.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa saja rukun umrah?
Rukun umrah ada empat dan wajib dikerjakan berurutan: ihram (niat di miqat), tawaf tujuh putaran mengelilingi Ka'bah, sa'i tujuh kali antara Safa dan Marwah, lalu tahallul dengan mencukur atau memotong rambut. Jika salah satu tertinggal, umrah tidak sah.
Bagaimana bacaan niat umrah yang benar?
Niat dilafalkan di miqat: 'Nawaitul umrata wa ahramtu bihi lillahi ta'ala', artinya 'Aku niat mengerjakan umrah dan berihram karenanya karena Allah'. Setelah itu jemaah memperbanyak bacaan talbiyah hingga memulai tawaf.
Apa saja larangan saat ihram?
Larangan ihram antara lain memakai wewangian, memotong kuku atau rambut, berburu, menikah, berhubungan suami istri, serta bagi pria dilarang berpakaian berjahit dan menutup kepala, bagi wanita dilarang menutup wajah dengan cadar.
Apa akibat jika melanggar larangan ihram?
Jemaah yang melanggar wajib membayar dam berupa menyembelih kambing, bersedekah makanan untuk fakir miskin, atau berpuasa tiga hari. Pelanggaran berhubungan suami istri bisa membatalkan umrah dan mengharuskan qada di kesempatan lain.
Apa itu tahallul dan bagaimana caranya?
Tahallul adalah rukun terakhir yang menandai selesainya ihram. Pria disunnahkan mencukur habis rambut kepala, sedangkan wanita cukup memotong ujung rambut sekitar dua sampai tiga sentimeter dari beberapa helai.
Sumber
- 10 Larangan Ihram untuk Laki-Laki dan Perempuan saat Umrah - CNN Indonesia
- 11 Larangan Jamaah Haji saat Ihram dan Sanksinya - NU Jatim
- PANDUAN UMRAH: Tata Cara Mengerjakan Umrah Lengkap - akuislam.com
- Niat Umrah, Lafal Lengkap dalam Tulisan Arab, Latin dan Artinya - detikHikmah
- Kemenhaj Terbitkan PMHU Nomor 2 Tahun 2026, Atur Standar Baru Usaha Haji dan Umrah - HIMPUH
Bacaan lain

Mendampingi Lansia di Tanah Suci: Cuaca, Sinyal, Oleh-Oleh
Panduan praktis bagi jamaah lansia dan pendamping: mengatur jadwal ibadah saat cuaca panas, menjaga komunikasi dengan eSIM, dan memahami aturan oleh-oleh di bagasi.

Gua Hira dan Gua Tsur: Dua Situs Sejarah di Makkah
Gua Hira dan Gua Tsur adalah dua situs bersejarah di Makkah yang terkait wahyu pertama dan hijrah Nabi Muhammad, kerap diziarahi jamaah umrah dan haji.

Menabung Sesuai Musim: Merencanakan Dana Umrah dari Nol
Panduan praktis mengenali komponen biaya umrah, menyusun target menabung bulanan, dan memahami musim yang biasanya lebih hemat untuk berangkat.
