Hajar Aswad, Multazam, Maqam Ibrahim: Sejarah di Sekitar Ka'bah
Banyak jamaah bertanya apa sebenarnya Hajar Aswad, Multazam, Hijir Ismail, Maqam Ibrahim, dan Zamzam itu, serta bagaimana sejarahnya. Semua itu adalah titik-titik bersejarah yang berada di dalam dan mengelilingi Ka'bah, di Masjidil Haram, Makkah. Masing-masing punya kisah sendiri sejak zaman Nabi Ibrahim hingga masa Nabi Muhammad, dan mengenalinya membuat ibadah tawaf terasa lebih bermakna, bukan sekadar mengikuti arus jamaah.
Hajar Aswad: Batu di Sudut Ka'bah yang Jadi Titik Awal Tawaf
Hajar Aswad adalah batu yang tertanam di salah satu sudut Ka'bah, tempat tawaf dimulai dan diakhiri. Menurut riwayat yang dipegang umat Islam, batu ini berasal dari surga dan pertama kali ditemukan oleh Nabi Ismail, lalu diletakkan Nabi Ibrahim saat membangun ulang Ka'bah. Sebagian riwayat menyebut batu ini semula berwarna putih dan berubah menghitam karena dosa manusia; ini bagian dari keyakinan keagamaan, bukan klaim yang bisa diverifikasi secara historis-arkeologis.
Ada satu peristiwa penting yang melibatkan Nabi Muhammad, sekitar tahun 605 Masehi, lima tahun sebelum beliau menerima wahyu pertama. Ketika suku Quraisy merenovasi Ka'bah, para pemimpin suku berebut kehormatan meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya. Nabi Muhammad menengahi perselisihan itu dengan meminta setiap pemimpin suku memegang ujung kain, lalu beliau sendiri yang meletakkan batu tersebut ke posisinya—sebuah solusi yang membuat semua pihak puas.
Secara fisik, Hajar Aswad yang dulunya utuh kini terdiri dari beberapa fragmen (sejumlah sumber menyebut tujuh hingga delapan bagian) yang disatukan dan dikelilingi bingkai perak agar mudah disentuh dan dicium jamaah. Dimensi bagian yang terlihat sekitar 20 x 16 sentimeter. Sejumlah ilmuwan pernah meneliti kemungkinan batu ini berasal dari meteorit, namun ini tetap perdebatan ilmiah yang belum tuntas, dan bukan bagian dari akidah.
Mencium Hajar Aswad adalah sunnah yang dicontohkan Nabi Muhammad. Bila kondisi terlalu padat, jamaah tidak perlu memaksakan diri mendekat—cukup memberi isyarat tangan ke arah batu dari kejauhan setiap melewati sudut tersebut saat tawaf.
Multazam: Tempat Berdoa Antara Hajar Aswad dan Pintu Ka'bah
Multazam adalah bagian dinding Ka'bah yang terletak di antara sudut Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Tempat ini dipercaya sebagai salah satu lokasi mustajab untuk berdoa. Sebuah riwayat dari Ibnu Abbas menyebutkan Nabi Muhammad bersabda bahwa Multazam adalah tempat doa dikabulkan, dan tidak ada doa seorang hamba di sana yang tertolak.
Praktik yang biasa dilakukan jamaah di Multazam adalah menempelkan dada, pipi, atau tangan ke dinding Ka'bah sambil memanjatkan doa. Karena area ini sempit dan sering padat, terutama pada musim ramai, jamaah lanjut usia atau yang membawa barang sebaiknya memperkirakan waktu yang lebih longgar dan tidak memaksakan diri berdesakan.
Hijir Ismail: Bekas Tempat Tinggal Siti Hajar dan Ismail
Hijir Ismail, juga disebut Hatim, adalah area berbentuk setengah lingkaran di sisi utara Ka'bah, di antara Rukun Iraqi dan Rukun Syami. Menurut riwayat, tempat ini dulunya adalah lokasi tinggal Siti Hajar dan Nabi Ismail, berupa fondasi batu yang beratapkan dedaunan.
Sejarah keberadaan Hijir Ismail sebagai bagian terpisah dari bangunan Ka'bah berkaitan dengan renovasi Ka'bah oleh suku Quraisy sekitar tahun 606 Masehi, saat Nabi Muhammad berusia 35 tahun. Karena keterbatasan dana yang mereka kumpulkan, dinding barat dan timur Ka'bah dipersempit sekitar tiga meter dari ukuran aslinya. Bagian yang tersisa di luar bangunan itulah yang kini menjadi Hijir Ismail—secara historis tetap bagian dari Ka'bah, meski secara fisik berada di luar dindingnya. Karena itu, tawaf yang sah harus mengelilingi Hijir Ismail, bukan memotong jalan melewatinya.
Dalam sebuah riwayat, Aisyah pernah ingin salat di dalam Ka'bah, namun Nabi Muhammad mengarahkannya untuk salat di Hijir Ismail karena tempat itu tetap dianggap bagian dari Ka'bah. Karena keutamaan ini, banyak jamaah berusaha menyempatkan salat sunnah di Hijir Ismail bila situasi memungkinkan—meski pada praktiknya area ini sering padat sehingga perlu kesabaran ekstra dan tidak boleh memaksa jamaah lain.
Maqam Ibrahim: Jejak Kaki Nabi Ibrahim saat Membangun Ka'bah
Maqam Ibrahim adalah batu yang diyakini menyimpan bekas pijakan kaki Nabi Ibrahim saat membangun Ka'bah bersama putranya, Nabi Ismail. Batu ini kini disimpan dalam pelindung kaca berbingkai emas, terletak di sisi timur Ka'bah, menghadap pintu dan area Multazam.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, posisi batu ini digeser beberapa meter dari dinding Ka'bah agar tidak menghalangi jamaah yang tawaf. Setelah tawaf, jamaah disunnahkan salat dua rakaat di dekat Maqam Ibrahim—bila kondisi memungkinkan, mengingat area ini kerap dipadati jamaah dari seluruh dunia.
Sumur Zamzam: Air yang Menurut Riwayat Tak Pernah Kering
Sumur Zamzam terletak sekitar 20 meter di sisi timur Ka'bah, di dalam kompleks Masjidil Haram. Kisahnya bermula dari Siti Hajar yang berlari antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali mencari air untuk putranya, Ismail, hingga air memancar dari tanah di dekat kaki bayi Ismail.
Soal kedalaman sumur ini, sumber-sumber yang beredar tidak sepenuhnya seragam—ada yang menyebut sekitar 30 meter, ada pula yang menyebut lebih dari 40 meter. Karena angka ini berbeda-beda antar sumber populer dan belum tentu mengacu pada pengukuran resmi terbaru, sebaiknya dianggap sebagai perkiraan dan dikonfirmasi ke otoritas pengelola Masjidil Haram bila dibutuhkan untuk keperluan yang presisi. Yang lebih konsisten disebut adalah bahwa air ini belum pernah dilaporkan kering meski dipakai jutaan jamaah setiap tahun sepanjang lebih dari seribu tahun.
Bagi jamaah, air Zamzam biasa diminum langsung di area Masjidil Haram atau dibawa pulang sesuai ketentuan bagasi yang berlaku. Karena aturan jumlah dan kemasan bisa berubah, cek ketentuan terbaru dari maskapai dan petugas di lapangan menjelang kepulangan.
Bagian Lain di Sekitar Ka'bah yang Sering Ditanyakan Jamaah
Selain lima tempat di atas, ada beberapa bagian Ka'bah lain yang kerap disebut jamaah saat tawaf. Berikut ringkasannya:
| Bagian | Penjelasan Singkat |
|---|---|
| Rukun Yamani | Sudut Ka'bah sebelum Hajar Aswad; disunnahkan diusap dengan tangan kanan saat melintas, tanpa dicium. |
| Rukun Iraqi | Sudut Ka'bah yang menghadap arah Irak, menjadi salah satu penanda dalam putaran tawaf. |
| Rukun Syami | Sudut Ka'bah yang menghadap arah Syam (Suriah). |
| Kiswah | Kain hitam penutup Ka'bah, dihiasi kaligrafi ayat Al-Qur'an dengan benang berwarna emas. |
| Mizab ar-Rahman | Pancuran di atap Ka'bah untuk mengalirkan air hujan agar tidak menggenang di atas bangunan. |
| Syadzarwan | Bagian marmer melengkung di dasar dinding Ka'bah yang berfungsi sebagai penopang dan pelindung fondasi. |
Detail seperti berat pintu Ka'bah atau ukuran pasti sejumlah elemen ini kadang berbeda antar sumber populer, sehingga angka-angka tersebut tidak dicantumkan di sini agar tidak menyesatkan.
Adab Berziarah di Titik-Titik Bersejarah Ini
Karena semua tempat di atas berada di area tawaf yang padat, beberapa hal berikut membantu menjaga kekhusyukan sekaligus keselamatan bersama:
- Tidak memaksakan diri mencium Hajar Aswad atau masuk ke Hijir Ismail bila kondisi sangat berdesakan; cukup berdoa dan memberi isyarat dari kejauhan.
- Menjaga barang bawaan tetap ringkas agar tidak menghalangi jamaah lain yang tawaf, terutama di area sempit seperti Multazam dan Hijir Ismail.
- Mendahulukan jamaah lanjut usia, anak-anak, atau penyandang disabilitas saat berada di titik-titik yang sering padat.
- Mengikuti arahan petugas Masjidil Haram, terutama saat jam-jam ramai menjelang waktu salat fardu.
Menyiapkan Diri Sebelum Berangkat
Mengetahui sejarah dan letak tempat-tempat ini membantu jamaah lebih tenang saat pertama kali memasuki Masjidil Haram, sehingga tawaf tidak hanya menjadi rangkaian gerakan mengikuti kerumunan. Arfa Tours biasa membekali jamaah dengan penjelasan singkat tentang titik-titik ini sebelum keberangkatan, agar waktu di depan Ka'bah bisa dimanfaatkan untuk berdoa dengan lebih fokus, bukan sekadar mencari-cari lokasi.
Bila Anda berencana berangkat bersama Arfa Tours (PT SBBA, izin PPIU 29122200379750004), silakan tanyakan kepada pembimbing ibadah mengenai rute tawaf dan waktu-waktu yang relatif lebih longgar di Masjidil Haram, karena kondisi kepadatan bisa berbeda tiap musim dan jam.
Pertanyaan yang sering diajukan
apa itu hajar aswad dan kenapa jamaah mencium batu itu
Hajar Aswad adalah batu di sudut Ka'bah yang menurut riwayat berasal dari surga dan menjadi titik awal-akhir tawaf. Menciumnya adalah sunnah yang dicontohkan Nabi Muhammad; jika berdesakan, cukup memberi isyarat tangan dari kejauhan tanpa memaksakan diri.
multazam itu letaknya di mana
Multazam terletak di dinding Ka'bah antara sudut Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Tempat ini dipercaya sebagai lokasi mustajab untuk berdoa, biasanya dengan menempelkan dada, pipi, atau tangan ke dinding sambil memanjatkan doa.
kenapa hijir ismail harus ikut dikelilingi saat tawaf
Hijir Ismail dulunya bagian dari bangunan asli Ka'bah, namun tidak ikut dibangun ulang saat renovasi masa Quraisy karena keterbatasan dana. Karena masih dianggap bagian Ka'bah, tawaf yang sah harus mengelilingi area ini, bukan memotong melewatinya.
maqam ibrahim itu apa dan bolehkah disentuh
Maqam Ibrahim adalah batu berisi bekas pijakan Nabi Ibrahim saat membangun Ka'bah, kini tersimpan dalam pelindung kaca emas di dekat Ka'bah. Jamaah tidak menyentuh langsung batunya, tetapi disunnahkan salat dua rakaat di sekitarnya setelah tawaf bila memungkinkan.
apakah sumur zamzam pernah kering
Berdasarkan catatan sejarah, sumur Zamzam belum pernah dilaporkan kering sejak ditemukan hingga sekarang meski dipakai jutaan jamaah tiap tahun. Angka kedalaman dan debit airnya berbeda-beda antar sumber, sehingga sebaiknya dicek ke otoritas resmi Arab Saudi untuk data terkini.
Sumber
Bacaan lain

Mendampingi Lansia di Tanah Suci: Cuaca, Sinyal, Oleh-Oleh
Panduan praktis bagi jamaah lansia dan pendamping: mengatur jadwal ibadah saat cuaca panas, menjaga komunikasi dengan eSIM, dan memahami aturan oleh-oleh di bagasi.

Gua Hira dan Gua Tsur: Dua Situs Sejarah di Makkah
Gua Hira dan Gua Tsur adalah dua situs bersejarah di Makkah yang terkait wahyu pertama dan hijrah Nabi Muhammad, kerap diziarahi jamaah umrah dan haji.

Menabung Sesuai Musim: Merencanakan Dana Umrah dari Nol
Panduan praktis mengenali komponen biaya umrah, menyusun target menabung bulanan, dan memahami musim yang biasanya lebih hemat untuk berangkat.
